BENGKULU TENGAH – Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Kabupaten Bengkulu Tengah tidak hanya diwarnai penanaman mangrove. Pemerintah daerah juga melepas 100 ekor anak penyu atau tukik ke laut sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Pelepasan dilakukan di kawasan Balai Konservasi Penyu Alun Utara, Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Selasa (28/7/2026), dan menjadi penutup rangkaian kegiatan lingkungan yang digelar Pemkab Bengkulu Tengah.
Sebanyak 100 tukik yang dilepas diketahui baru berusia sekitar 25 hari. Pada usia tersebut, tukik mulai memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan habitat alaminya di laut.
Prosesi pelepasan dilakukan bersama Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto, jajaran Forkopimda, organisasi perangkat daerah, BPDAS Bengkulu, PT Bio Nusantara Teknologi, PT Pelindo Bengkulu, pemerintah desa, komunitas konservasi, hingga masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, pelepasan tukik bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi menjadi pengingat bahwa keberhasilan menjaga laut bergantung pada kemampuan manusia melindungi habitat satwa liar.
Keberadaan penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan laut. Karena itu, kelestarian habitat pantai dan kawasan mangrove menjadi faktor utama agar populasi penyu tetap terjaga.
Bupati Rachmat menilai pelestarian lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menjaga hutan mangrove, kebersihan pantai, hingga melindungi satwa yang hidup di kawasan pesisir.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bengkulu Tengah, Faisal, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari upaya memperkuat konservasi kawasan pesisir sekaligus mendukung program nasional pelestarian lingkungan.
Menurutnya, sinergi pemerintah, perusahaan, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadi modal utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pantai.
Selain penanaman mangrove dan pelepasan tukik, kegiatan juga diisi aksi bersih pantai sebagai bentuk kepedulian terhadap pencemaran sampah yang dapat mengancam kehidupan satwa laut.
DLH berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara rutin agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga pantai semakin meningkat.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan tingkat keberhasilan hidup mangrove sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat pesisir,” ujar Faisal.
Bengkulu Tengah memiliki garis pantai yang menyimpan potensi sumber daya alam sekaligus menjadi habitat berbagai satwa dilindungi. Karena itu, upaya konservasi dinilai harus terus diperkuat agar manfaat lingkungan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Melalui pelepasan 100 tukik tersebut, Pemkab Bengkulu Tengah ingin mengirim pesan bahwa menjaga laut bukan hanya soal melestarikan satwa, tetapi juga menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir. Dengan ekosistem yang sehat, keseimbangan alam dapat tetap terpelihara dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius








