Surat Kedua Rakyat Sumatera ke Prabowo: PLTU Batubara Disebut Kejahatan Lingkungan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 12 April 2026 - 11:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULU – Tekanan terhadap pemerintah pusat kembali muncul dari Sumatera. Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) resmi mengirim surat kedua kepada Presiden Prabowo Subianto terkait dugaan dampak serius PLTU batubara terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Surat yang dikirim pada 11 April 2026 ini menjadi lanjutan dari surat pertama yang telah dikirim pada 11 Maret 2026. Namun hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pihak Istana.

Dalam surat tersebut, STuEB menegaskan bahwa Pulau Sumatera tidak boleh terus dijadikan “zona tumbal energi kotor”. Mereka menilai, aktivitas PLTU batubara telah mengorbankan lingkungan hidup serta kesehatan masyarakat demi kepentingan ekonomi segelintir pihak.

Baca Juga :  Banjir Lumpuhkan Akses di Lebong, Dandim Rejang Lebong Pastikan TNI Siaga 24 Jam untuk Warga

Ali Akbar, Konsolidator STuEB, menyebut pengiriman surat kedua ini sebagai bentuk pengingat kepada Presiden.

“Kami paham Presiden memiliki banyak kesibukan. Tapi persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Ini menyangkut hidup masyarakat Sumatera,” ujar Ali.

Menurut STuEB, kondisi ekologis di Sumatera saat ini sudah berada dalam status darurat. Aktivitas puluhan PLTU batubara dinilai telah memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara, limbah berbahaya, hingga kerusakan laut.

Koalisi ini juga mengungkap hasil pemantauan terbaru pada Maret 2026 di delapan provinsi di Sumatera. Hasilnya menunjukkan bahwa dampak PLTU batubara terus meningkat dan membentuk pola kerusakan lingkungan yang sistematis.

Baca Juga :  WFA ASN Diuji Coba, Target Kerja Tak Boleh Turun

Dalam laporan tersebut, disebutkan berbagai jenis pelanggaran lingkungan, seperti pembuangan limbah FABA, air bahang ke laut, hingga emisi udara beracun yang menyebar ke pemukiman warga.

STuEB menilai, narasi bahwa batubara adalah energi murah tidak sepenuhnya benar. Mereka menyebut, biaya yang harus ditanggung masyarakat jauh lebih besar, terutama dalam bentuk kerusakan lingkungan dan kesehatan.

“Energi murah itu hanya ilusi. Yang dibayar masyarakat adalah udara kotor, laut rusak, dan penyakit,” tegas Ali.

Koalisi juga menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap operasional PLTU batubara di Sumatera.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Pelindo Benahi Jalan Pelabuhan Bengkulu, Jalur Logistik Diperkuat
Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM
Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal
PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi
Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan
Bank Bengkulu Perbarui Tampilan Saldo Digital, Fokus Tingkatkan Kenyamanan Nasabah
Lepas 100 Tukik, Bengkulu Tengah Kirim Pesan Penting tentang Masa Depan Ekosistem Laut
Saksi Ahli dari Terdakwa, Benarkan Prosedur Audit Sebelum Lapor Polisi
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 19:55 WIB

Pelindo Benahi Jalan Pelabuhan Bengkulu, Jalur Logistik Diperkuat

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:30 WIB

Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:00 WIB

PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan

Berita Terbaru

Bengkulu

Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM

Rabu, 26 Agu 2026 - 11:30 WIB

Bengkulu

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Senin, 17 Agu 2026 - 15:23 WIB