Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULU – Alam Seblat menjadi salah satu benteng terakhir kehidupan gajah Sumatera di Bengkulu. Namun, ruang hidup satwa dilindungi itu terus menyusut. Populasinya kini berada pada kondisi kritis dan menghadapi ancaman kepunahan lokal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Koalisi Bentang Seblat bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu. Mereka menggelar Elephant Camp 2026 di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat pada 15-17 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Gajah Sedunia dan HUT ke-81 Republik Indonesia itu mengusung tema #GajahKita. Pesannya sederhana: gajah Sumatera yang hidup di Bentang Seblat merupakan kekayaan Bengkulu yang harus dijaga bersama.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara bendera pada 17 Agustus. Peserta kemah bersama delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat kemudian membentuk formasi sebagai simbol bahwa perlindungan gajah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pegiat lingkungan.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan kondisi habitat gajah di Bentang Alam Seblat saat ini semakin memprihatinkan.

Menurut dia, fragmentasi habitat dan kematian gajah akibat racun menjadi bagian dari faktor yang menyebabkan populasi gajah Sumatera di kawasan tersebut terus menurun.

Saat ini, populasi gajah Sumatera di Bentang Seblat disebut hanya tersisa puluhan ekor. Gajah-gajah liar tersebut hidup di dua kantong habitat, yakni Air Rami dan Air Teramang di Kabupaten Mukomuko.

Tekanan terhadap habitat juga datang dari perubahan fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, dari sekitar 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, sekitar 30.017 hektare disebut telah dirambah menjadi perkebunan sawit.

“Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” kata Ali.

Baca Juga :  Desa Hijau Jadi Jawaban Ancaman Bencana dan Perubahan Iklim

Ancaman terhadap gajah Sumatera semakin menjadi perhatian setelah ditemukannya dua gajah mati di kawasan hutan pada 30 April 2026.

Gajah tersebut merupakan seekor induk berusia sekitar 25 tahun dan anaknya yang berumur sekitar dua tahun.

Berdasarkan keterangan dalam siaran pers Koalisi Bentang Seblat, hasil pemeriksaan laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menunjukkan adanya kandungan fluorida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua satwa tersebut.

Ali mengatakan temuan senyawa kimia tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya melindungi gajah yang masih tersisa.

“Hasil uji laboratorium sudah keluar dan gajah mati itu diracun, bisa jadi termakan racun. Artinya ada racun di tubuhnya, ada senyawa kimia,” ujar Ali.

Ia menilai persoalan perlindungan gajah tidak dapat dilepaskan dari konflik ruang dan tekanan terhadap habitat. Semakin sempit ruang hidup gajah, semakin besar pula kemungkinan satwa tersebut masuk ke kawasan yang telah dikelola masyarakat.

Fragmentasi habitat, menurut koalisi, juga terjadi akibat keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar di sekitar bentang alam tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Koalisi Selamatkan Bentang Seblat mendorong pemerintah meningkatkan perlindungan terhadap kawasan habitat gajah.

Koalisi mendesak Kementerian Kehutanan mengubah fungsi kawasan hutan di Bentang Alam Seblat dari hutan produksi menjadi kawasan suaka margasatwa dengan luas sekitar 80 ribu hektare.

Koalisi menilai status kawasan saat ini belum memberikan perlindungan yang cukup kuat bagi habitat gajah.

“Kita ingin status ini satu tingkat di atas level kawasan lindung, dalam hal ini kawasan konservasi. Usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan kantong gajah ini,” kata Ali.

Peningkatan status tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan kawasan sekaligus menjadi dasar untuk membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan kelompok lingkungan dalam menjaga Bentang Seblat.

Baca Juga :  Pleidooi Kasus PTM dan Mega Mall Bengkulu: Penasihat Hukum Tegaskan Unsur Korupsi Tidak Terbukti

Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho, menyebut jumlah gajah di Bengkulu saat ini diperkirakan tinggal sekitar 25 hingga 30 ekor. Selain itu, terdapat 10 gajah jinak di TWA Seblat.

Menurut Agung, gajah liar yang terpantau masih memiliki empat anak. Kondisi tersebut menunjukkan kawanan gajah masih bereproduksi.

“Gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi,” ujar Agung.

Namun, kemampuan berkembang biak itu belum berarti ancaman telah berakhir. Berkurangnya tutupan hutan dan perubahan kawasan menjadi perkebunan sawit tetap menjadi persoalan besar bagi keberlangsungan populasi.

“Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” katanya.

Elephant Camp tidak hanya digunakan untuk menyuarakan ancaman terhadap populasi gajah. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Koordinator PLG Seblat Bengkulu, Johansyah, mengatakan peserta mendapat kesempatan berinteraksi secara langsung sekaligus memperoleh pengetahuan tentang gajah Sumatera.

“Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatera di Bengkulu,” ujar Johansyah.

Keberadaan gajah mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Gajah membantu menyebarkan biji tanaman melalui aktivitas makan dan berpindah tempat. Pergerakannya juga membantu membuka jalur alami di dalam hutan serta mendukung regenerasi tumbuhan.

Bela Wilianti, salah seorang peserta Elephant Camp, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti kegiatan susur hutan yang dipandu petugas BKSDA.

Peserta menemukan berbagai jenis serangga dan tumbuhan, termasuk pohon meranti yang disebut terancam punah.

Pengalaman serupa dirasakan Pinka. Ia baru pertama kali datang ke PKG Seblat dan melihat gajah secara langsung.

“Ini menjadi pengalaman berharga. Kegiatan ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” kata Pinka.

Berita Terkait

PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi
Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan
Bank Bengkulu Perbarui Tampilan Saldo Digital, Fokus Tingkatkan Kenyamanan Nasabah
Saksi Ahli dari Terdakwa, Benarkan Prosedur Audit Sebelum Lapor Polisi
Bengkulu Terancam Kehilangan 400 Hektare Mangrove, GPA Gendong Adventure Minta Aksi Cepat
Saksi Ahli Terdakwa Tegaskan Fraud Bisa Diproses Hukum Meski Kerugian Kecil
Akitvitas Tambang Batu Bara Ilegal Akibatkan Pencemaran dan Abrasi
KH ES Mubarok Ajak Warga Bengkulu Tengah Bangun Daerah dengan Iman dan Kebersamaan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:00 WIB

PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:33 WIB

Bank Bengkulu Perbarui Tampilan Saldo Digital, Fokus Tingkatkan Kenyamanan Nasabah

Kamis, 9 Juli 2026 - 19:40 WIB

Bengkulu Terancam Kehilangan 400 Hektare Mangrove, GPA Gendong Adventure Minta Aksi Cepat

Berita Terbaru

Bengkulu

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Senin, 17 Agu 2026 - 15:23 WIB