BENGKULU – Provinsi Bengkulu akan terjadi kehilangan lebih dari 400 hektare hutan mangrove dalam 10 tahun ke depan. Peringatan tersebut berdasarkan berdasarkan hasil analisis spasial terhadap perubahan tutupan mangrove di wilayah pesisir Bengkulu yang dilakukan oleh Divisi Konservasi Gerakan Pecinta Alam (GPA) Gendong Adventure Bengkulu.
Dalam kajiannya, GPA Gendong Adventure mencatat Bengkulu telah kehilangan sekitar 212,5 hektare mangrove sepanjang periode 2021 hingga 2025 atau rata-rata 42,5 hektare setiap tahun. Angka itu menunjukkan laju degradasi ekosistem pesisir yang dinilai cukup mengkhawatirkan.
Sekretaris Umum GPA Gendong Adventure, Rendi Dwi Syahputra, mengatakan kerusakan mangrove bukan sekadar hilangnya kawasan hijau, tetapi juga mengancam perlindungan alami wilayah pesisir Bengkulu dari abrasi dan gelombang laut.
“Jika kita berkomitmen menjaga cagar budaya seperti Benteng Marlborough, kita tidak boleh abai terhadap kehancuran ‘benteng hijau’ yang melindungi permukiman warga langsung dari abrasi,” kata Rendi, Kamis (090/7/2026).
Dalam skema besar kerusakan, GPA Gendong Adventure membandingkan luas mangrove yang hilang setiap tahun dengan Benteng Marlborough. Dengan luas benteng sekitar 4,4 hektare, penyusutan mangrove di Bengkulu setiap tahunnya setara dengan hilangnya sekitar 10 kompleks Benteng Marlborough.
Menurut Rendi, analisis tersebut disusun menggunakan data Badan Informasi Geospasial (BIG) dan citra satelit Hansen. Data itu diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, maupun masyarakat dalam menyusun kebijakan dan aksi konservasi mangrove.
Apabila penyusutan terus berlangsung, lanjut Rendi, Bengkulu akan menghadapi berbagai dampak serius, mulai dari meningkatnya abrasi pantai, hilangnya pelindung alami kawasan pesisir dari gelombang Samudra Hindia, hingga rusaknya habitat pembesaran ikan yang dapat menurunkan produktivitas perikanan masyarakat.
“Melalui penggunaan data BIG dan satelit Hansen ini menjadi panduan praktis bagi pemerintah dan masyarakat untuk mulai melakukan aksi nyata pelestarian hutan mangrove demi menjaga fungsi ekosistem pesisir,” tutup Rendi.
Sebagai langkah awal, GPA Gendong Adventure telah melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang dan Pulau Baai. Organisasi tersebut berharap rehabilitasi mangrove dapat menjadi gerakan bersama agar kerusakan ekosistem pesisir Bengkulu tidak semakin meluas.








