Bertahan Sejak 2015, Konservasi Penyu Warga Bengkulu Terancam Abrasi

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 11 April 2026 - 15:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULUTENGAH – Di tengah terpaan abrasi yang kian menggerus pesisir Bengkulu Tengah, sebuah upaya konservasi penyu yang dibangun dari semangat warga kini menghadapi ujian berat.

Zulkarnedi, sosok di balik konservasi penyu di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa. Sejak 2015, ia secara mandiri merintis tempat penetasan telur penyu dan telah melepas ribuan tukik ke laut.

Namun kini, perjuangan itu terancam. Abrasi dan cuaca ekstrem merusak bangunan penetasan serta mengurangi luas area konservasi. Kondisi ini membuat aktivitas pelestarian menjadi tidak maksimal.

Kerusakan tersebut menarik perhatian Kapolda Bengkulu, Mardiyono, yang langsung turun ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya.

Dalam kunjungannya, Kapolda mengakui bahwa fasilitas konservasi mengalami kerusakan cukup serius. Ia menyebut, kondisi ini membutuhkan perhatian bersama agar tidak semakin parah.

Baca Juga :  Nongkrong Sambil Kenal Budaya, CFN Belungguk Point Jadi Kelas Terbuka Gen Z

“Ini perlu perhatian bersama. Kita akan kaji kebutuhan yang ada agar bisa diberikan dukungan,” ujarnya.

Zulkarnedi mengaku selama ini menjalankan konservasi dengan keterbatasan. Meski begitu, ia tetap konsisten menjaga telur penyu hingga menetas dan dilepas ke laut.

 

Semangat tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Namun, tanpa dukungan yang memadai, upaya ini sulit bertahan menghadapi ancaman alam seperti abrasi.

Saat ini, sekitar 1.500 telur penyu sedang dalam masa penetasan. Harapan besar disematkan agar seluruhnya bisa menetas dan kembali ke habitatnya.

Baca Juga :  WFA ASN Diuji Coba, Target Kerja Tak Boleh Turun

Kapolda juga mengajak personel kepolisian untuk turun langsung membantu melalui kerja bakti membersihkan kawasan konservasi. Aksi ini menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan nyata terhadap inisiatif warga.

Ia menegaskan bahwa penyu merupakan satwa dilindungi. Oleh karena itu, keberadaan konservasi seperti ini sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem laut.

“Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Kisah konservasi ini menjadi pengingat bahwa lingkungan membutuhkan perhatian serius. Abrasi yang terjadi tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengancam upaya pelestarian yang telah dibangun bertahun-tahun.

Kini, harapan tertuju pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum untuk menjaga keberlanjutan konservasi tersebut.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Pelindo Benahi Jalan Pelabuhan Bengkulu, Jalur Logistik Diperkuat
Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM
Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal
PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi
Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan
Bank Bengkulu Perbarui Tampilan Saldo Digital, Fokus Tingkatkan Kenyamanan Nasabah
Saksi Ahli dari Terdakwa, Benarkan Prosedur Audit Sebelum Lapor Polisi
Bengkulu Terancam Kehilangan 400 Hektare Mangrove, GPA Gendong Adventure Minta Aksi Cepat
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 19:55 WIB

Pelindo Benahi Jalan Pelabuhan Bengkulu, Jalur Logistik Diperkuat

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:30 WIB

Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:00 WIB

PN Mukomuko Akhirnya Terima Pembayaran Petani dalam Bentuk Hasil Bumi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Rumah Tiga Petani Tanjung Sakti Terancam Disita, Aliansi Bela Petani Turun ke Jalan

Berita Terbaru

Bengkulu

Alur Pulau Baai Kini Dilalui Kapal Pengangkut Ribuan Ton BBM

Rabu, 26 Agu 2026 - 11:30 WIB

Bengkulu

Gajah Sumatera di Bentang Seblat di Ujung Kepunahan Lokal

Senin, 17 Agu 2026 - 15:23 WIB