BENGKULUTENGAH – Di tengah terpaan abrasi yang kian menggerus pesisir Bengkulu Tengah, sebuah upaya konservasi penyu yang dibangun dari semangat warga kini menghadapi ujian berat.
Zulkarnedi, sosok di balik konservasi penyu di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa. Sejak 2015, ia secara mandiri merintis tempat penetasan telur penyu dan telah melepas ribuan tukik ke laut.
Namun kini, perjuangan itu terancam. Abrasi dan cuaca ekstrem merusak bangunan penetasan serta mengurangi luas area konservasi. Kondisi ini membuat aktivitas pelestarian menjadi tidak maksimal.
Kerusakan tersebut menarik perhatian Kapolda Bengkulu, Mardiyono, yang langsung turun ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya.
Dalam kunjungannya, Kapolda mengakui bahwa fasilitas konservasi mengalami kerusakan cukup serius. Ia menyebut, kondisi ini membutuhkan perhatian bersama agar tidak semakin parah.
“Ini perlu perhatian bersama. Kita akan kaji kebutuhan yang ada agar bisa diberikan dukungan,” ujarnya.
Zulkarnedi mengaku selama ini menjalankan konservasi dengan keterbatasan. Meski begitu, ia tetap konsisten menjaga telur penyu hingga menetas dan dilepas ke laut.
Semangat tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Namun, tanpa dukungan yang memadai, upaya ini sulit bertahan menghadapi ancaman alam seperti abrasi.
Saat ini, sekitar 1.500 telur penyu sedang dalam masa penetasan. Harapan besar disematkan agar seluruhnya bisa menetas dan kembali ke habitatnya.
Kapolda juga mengajak personel kepolisian untuk turun langsung membantu melalui kerja bakti membersihkan kawasan konservasi. Aksi ini menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan nyata terhadap inisiatif warga.
Ia menegaskan bahwa penyu merupakan satwa dilindungi. Oleh karena itu, keberadaan konservasi seperti ini sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem laut.
“Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Kisah konservasi ini menjadi pengingat bahwa lingkungan membutuhkan perhatian serius. Abrasi yang terjadi tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengancam upaya pelestarian yang telah dibangun bertahun-tahun.
Kini, harapan tertuju pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum untuk menjaga keberlanjutan konservasi tersebut.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









