BENGKULU – Batik ChaCha Mentari, UMKM binaan Persit Kodim 0409/Rejang Lebong, sukses mencuri perhatian dalam ajang nasional “Persit Bisa 2” yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Produk batik khas Rejang Lebong itu tampil memukau dan menjadi salah satu pusat perhatian dalam kegiatan pemberdayaan UMKM Persit Kartika Chandra Kirana.
Keikutsertaan Batik ChaCha Mentari menjadi kebanggaan tersendiri bagi Provinsi Bengkulu. Dari seluruh perwakilan Korem, UMKM asal Rejang Lebong tersebut dipercaya membawa nama Bengkulu dalam ajang yang mempertemukan berbagai karya kreatif istri prajurit TNI AD dari seluruh Indonesia.
Sejak hari pertama kegiatan, suasana acara berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Berbagai rangkaian acara digelar, mulai dari pemutaran video dokumentasi kegiatan Persit Bisa, fashion show wastra Nusantara, hingga talkshow tentang pengembangan UMKM dan pemanfaatan layanan digital perbankan.
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah penayangan video perjalanan atau “Journey” UMKM binaan Persit, termasuk Batik ChaCha Mentari. Video tersebut memperlihatkan proses kreatif para pengrajin batik, mulai dari menggambar pola hingga proses pewarnaan kain khas motif Kaganga.
Penampilan itu mendapat apresiasi tinggi dari peserta dan tamu undangan. Tidak hanya karena kualitas produk yang ditampilkan, tetapi juga karena semangat pelestarian budaya lokal yang dibawa oleh para perempuan Bengkulu melalui karya batik mereka.
Suasana semakin semarak ketika berbagai peragaan busana khas Nusantara ditampilkan di atas panggung. Mulai dari batik Lasem, kain tapis Lampung, hingga kolaborasi batik Mega Mendung, Sengkang dan Juntai tampil memukau di hadapan pengunjung.
Namun, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju di atas panggung. Booth Batik ChaCha Mentari juga ramai diserbu pengunjung sejak pagi hari. Berbagai produk batik, termasuk kemeja batik pria khas Rejang Lebong, menjadi daya tarik tersendiri.
Ketua Cabang XX Dim 0409 Koorcab Rem 041 PD XXI/Radin Inten, Ratih Agung mengatakan antusiasme pengunjung terhadap Batik ChaCha Mentari sangat tinggi.
“Sejak pagi booth sudah ramai dikunjungi peserta dan tamu undangan. Mereka tertarik melihat motif batik khas Bengkulu yang berbeda dan memiliki filosofi budaya yang kuat,” ujar Ratih Agung dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, booth tersebut bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang interaksi budaya. Banyak pengunjung berdialog langsung dengan tim Batik ChaCha Mentari untuk mengetahui makna motif hingga proses pembuatan batik khas Rejang Lebong.
Keramahan tim yang melayani pengunjung juga membuat suasana booth terasa hangat dan hidup. Bahkan transaksi pembelian terus berlangsung selama kegiatan berlangsung.
Ratih menyebut keberhasilan Batik ChaCha Mentari tampil di ajang Persit Bisa menjadi bukti bahwa UMKM lokal Bengkulu mampu bersaing dan menarik perhatian di tingkat nasional.
“Ini bukti bahwa kreativitas anggota Persit dan UMKM daerah memiliki kualitas yang luar biasa dan layak tampil di panggung nasional,” katanya.
Batik ChaCha Mentari sendiri lahir dari tangan kreatif Ely Susianti, seorang ASN sekaligus anggota Persit Kodim 0409/Rejang Lebong. Bersama ibu-ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya, Ely membangun kelompok UMKM yang fokus melestarikan batik motif Kaganga khas Rejang Lebong.
Berawal dari kegiatan sederhana di teras rumah, Ely mengajarkan para ibu rumah tangga menggambar pola, mencanting hingga mewarnai kain batik. Perlahan, usaha tersebut berkembang menjadi UMKM produktif yang kini dikenal dengan nama Batik ChaCha Mentari.
Saat ini Batik ChaCha Mentari memiliki tiga pengrajin aktif dengan kapasitas produksi mencapai 10 hingga 30 helai kain setiap bulan. Meski masih didominasi pasar lokal Bengkulu, produk mereka mulai dikenal lebih luas setelah tampil dalam berbagai kegiatan Persit.
Ely mengatakan dukungan Persit Kartika Chandra Kirana menjadi salah satu faktor penting berkembangnya usaha tersebut. Program Persit Bisa dinilai menjadi ruang besar bagi anggota Persit untuk berkembang dan mandiri melalui UMKM.
“Melalui program ini kami mendapatkan pembinaan, pendampingan usaha, sekaligus kesempatan promosi yang sangat membantu perkembangan UMKM,” jelas Ely.
Ia berharap keikutsertaan Batik ChaCha Mentari dalam Persit Bisa 2 dapat memperluas promosi batik khas Rejang Lebong sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan para ibu rumah tangga yang terlibat dalam produksi.
Tidak hanya itu, Ely juga ingin batik motif Kaganga semakin dikenal sebagai warisan budaya Bengkulu yang memiliki nilai seni tinggi.
“Harapan kami tentu budaya lokal tetap lestari, UMKM terus berkembang, dan semakin banyak perempuan yang berani berkarya serta mandiri secara ekonomi,” ungkapnya optimistis.
Keberhasilan Batik ChaCha Mentari di ajang Persit Bisa 2 diharapkan menjadi inspirasi bagi UMKM lain di Bengkulu untuk terus berinovasi dan percaya diri membawa produk lokal ke tingkat nasional.









